Ujian Kenaikan Tingkat Beladiri Militer Yongmoodo Korem 101/Antasari Dan Balak Aju Wilayah Korem 101/Antasari

Selasa(12/05) Korem 101/Antasari melaksanakan Ujian kenaikan tingkat beladiri militer Yongmoodo diawali dengan upacara pembukaan yang di pimpin oleh Kasrem 101/Antasari Letkol Inf Heri Pribadi sebagai Irup Pembukaan Ujian kenaikan tingkat beladiri militer Yongmoodo.Ujian ini juga di ikuti 10 balak aju/badan pelaksana jajaran Korem 101/Antasari. Beladiri Yongmoodo teridiri dari beberapa tingkat putih,kuning,hijau,biru,cokelat,merah dan hitam.Untuk setiap kenaikan tingkat perlu latihan keras dan rutin agar tercapai kemampuan yang maksimal.Target pencapaian tingkat sampai dengan sabuk hitam tiap satuan berbeda,satuan tempur dan bantuan tempur 3 bulan dalam hal ini sudah dilaksanakan,satuan wilayah 12 bulan yang sedang berjalan sampai saat ini.Pelaksanaan ujian yongmoodo di awasi dan di uji oleh pelatih-pelatih yang sudah berpengalaman dan mereka merupakan prajurit yang mempunyai kriteria Dan 1 sabuk hitam.

Tim pengawas dan penguji bukan hanya berasal dari korem 101/Antasari saja melainkan gabungan dari beberapa balak aju wilayah Korem 101/Antasari.Para prajurit mengikuti ujian kenaikan tingkat dengan penuh semangat dan antusias.Dalam pelaksanaannya tidaka hanya prajurit pria yang mengikuti uian kenaikan tingkat ini tetapi Kowad (Korps Wanita Angakatan Darat) juga ikut serta dalam kegiatan ini.Kapten Inf Junaidi (Kajasrem 101/Antasari) yang betindak sebagai koordinator Ujian kenaikan tingkat beladiri militer Yongmoodo Korem 101/antasari dan balak aju wilayah Korem 101/Antasari menyampaikan bahwa “tujuan dari pada pelaksanaan ujian kenaikan tingkat ini adalah agar para prajurit memiliki kemampuan beladiri yang notabenya untuk menunjang pelaksanaan tugas di medan pertempuran terutama perkelahian jarak dekat dengan lawan atau musuh.

Yongmoodo juga merupakan syarat mutlak untuk menunjang kenaikan pangkat prajurit sebagiamana yang sudah di perintahkan Kepala Staf Angkatan Darat Jendral TNI Gatot Nurmatyo.Yongmoodo tidak di gunakan untuk menyombongakan diri terhadap masyarakat atau menakut-nakuti masyarakat dengan kemampuannya itu tetapi terlebih untuk melindungi masyarakat yang membutuhkan.”(Penrem 101/Ant)004